Berikut Review Seru Dari Game Terkenal Dungeons & Dragons

Berikut Review Seru Dari Game Terkenal Dungeons & Dragons

Berikut Review Seru Dari Game Terkenal Dungeons & Dragons – Dungeons & Dragons (disingkat D&D atau DnD) adalah sebuah permainan peran (RPG) berjenis fantasy yang diterbitkan oleh Wizards of the Coast. Permainan  Dungeons & Dragons pertama, dirancang oleh Gary Gygax dan Dave Arneson, pertama diterbitkan pada Januari 1974 oleh perusahaan Gygax Tactical Studies Rules (TSR).

Diturunkan dari tabletop wargame, terbitan ini biasanya dianggap sebagai awal dari permainan peran modern, dan dengan perpanjangan, industri permainan peran. Tuque Games dan Wizards of the Coast pernah merilis sebuah game bergenre action role-playing game (RPG) pada 22 Juni 2021. Karya tersebut adalah sebuah game fantasi berjudul Dungeons & Dragons: Dark Alliance yang dapat dimainkan di PC, PS4, PS5, Xbox One, dan Xbox Series X.

Membawa nama besar Dungeons & Dragons tentunya menjadi beban tersendiri bagi pengembang dalam membuat game third-person kali ini. Steam menjualnya seharga Rp500 ribuan untuk versi standar dan Rp700 ribuan untuk versi yang lebih lengkap.

1. Kisah epik yang tidak dieksekusi dengan maksimal
[REVIEW] Dungeons & Dragons: Dark Alliance—Karya yang Tidak Maksimal

Bagi yang menyukai plot atau jalan cerita tentang kepahlawanan, kisah epik, peperangan dengan makhluk mitos, dan latar RPG lainnya mungkin kamu bisa nikmati dari Dungeons & Dragons: Dark Alliance. Tuque Games dan Wizard bisa menghadirkan plot yang megah dan kompleks layaknya banyak RPG lainnya.

Sayangnya, jalan cerita yang begitu megah tidak digarap dengan maksimal. Penulis yang sempat memainkannya selama beberapa jam langsung memahami bahwa game kali ini tidak sanggup menghadirkan plot sekuat game Dungeons & Dragons lainnya. Latar cerita utama yang disuguhkan terinspirasi langsung oleh novel berjudul The Crystal Shard, sebuah cerita fantasi karya RA Salvatore.

Para jagoan fantasi kita akan berusaha menyelamatkan dunia dari ancaman artefak kristal yang memiliki kekuatan magis. Sama seperti game bertema RPG lainnya, ada banyak ras, bangsa, dan jenis monster di sini. Sayangnya, lagi-lagi latar belakang dari ras-ras tersebut tidak diceritakan dengan cukup detail dan membuat pemain menyimpulkan segala sesuatunya secara mandiri.

Kedalaman cerita juga tidak bisa dieksekusi dengan baik dan ada begitu banyak lubang-lubang plot yang sulit disatukan secara utuh. Secara keseluruhan, plot dan jalan cerita yang ditampilkan belumlah maksimal. Kisah epik yang disajikan terasa sangat kurang dalam dan seolah dibuat begitu saja.

2. Gameplay monoton dan melelahkan
[REVIEW] Dungeons & Dragons: Dark Alliance—Karya yang Tidak Maksimal

Umumnya, banyak game bertema action RPG banyak mengundang minat karena sistem permainan di dalamnya yang mengasyikkan. Alih-alih mendapatkan sensasi yang sama, penulis justru merasa bahwa gameplay yang dihadirkan dalam Dungeons & Dragons: Dark Alliance terasa membosankan dan melelahkan.

Di sepanjang permainan, hanya akan ada jenis gameplay yang sama dan itu-itu saja. Bahkan, kenaikan level yang signifikan tidak akan membawamu ke dalam gameplay yang makin berbobot. Sebaliknya, petualangan dari satu titik ke titik yang lain hanya bagaikan grinding yang garing dan cukup membuat jari kita pegal. Kamu tetap akan melakukan eksplorasi untuk berbagai macam tujuan, misalnya meningkatkan XP atau mencari emas.

Yang tambah membuat jengkel adalah dangkalnya pengalaman yang akan kita dapatkan manakala kita sudah menyelesaikan suatu misi. Untuk mendapatkan hadiah atau jawaban dari teka-teki yang ringan saja harus melakukan perlawanan dari musuh-musuh yang punya skill di atasmu. Yup, secara umum, memainkan game ini memang terasa membosankan dan monoton.

3. Tampilan visual terkesan tanggung
[REVIEW] Dungeons & Dragons: Dark Alliance—Karya yang Tidak Maksimal

Dari segi grafis, Dungeons & Dragons: Dark Alliance terbilang biasa-biasa saja. Bahkan, kualitas visual yang ditampilkan serbatanggung dan tidak merepresentasikan kehebatan Unreal Engine 4. Game ini dirilis untuk PC, PS4, Xbox One, PS5, dan Xbox Series X. Seharusnya, di atas kertas, karya dari Tuque Games ini bisa disandingkan dengan banyak game sekelas.

Jika dimainkan di PS5 atau Xbox Series X, game ini tentu akan terasa sangat ketinggalan. Bahkan, jika dimainkan di PS4 pun permainan video ini seharusnya bisa tampil lebih baik lagi. Jadi, bagi penulis, kualitas grafis yang berusaha ditampilkan oleh pengembang terasa hambar dan serbatanggung. Itu sebabnya, sebaiknya Dungeons & Dragons: Dark Alliance cukup dimainkan di PC karena memang harga versi Steam jelas lebih murah.

4. Musik cukup bagus, tapi tidak dengan audio lainnya
[REVIEW] Dungeons & Dragons: Dark Alliance—Karya yang Tidak Maksimal

Selain grafis yang terkesan tanggung, kualitas audio juga tidak bisa dikatakan bagus. Khusus untuk musiknya, penulis sebetulnya cukup menikmati. Suasana dark yang epik bisa diterjemahkan dengan baik melalui lantunan musik-musiknya. Namun, ketika mendengar sistem audio lainnya, dengan cepat kita akan menyimpulkan bahwa kualitas audio dari game ini tidaklah fenomenal sama sekali.

Suara-suara raungan monster dan pertempuran tidak dapat dibawakan dengan penuh dan berkualitas. Alih-alih mengalami peperangan besar yang megah dan epik, kita justru akan dibawa pada pertempuran kecil dengan kualitas audio yang tak seberapa. Di beberapa bagian, hanya akan terdengar suara-suara renyah yang tidak menunjukkan kualitas apik layaknya RPG dengan nama-nama besar lainnya.

5. Tenggelam dengan membawa nama besar
[REVIEW] Dungeons & Dragons: Dark Alliance—Karya yang Tidak Maksimal

Memang tidak mudah untuk membuat dan mengembangkan RPG di bawah bayang-bayang nama besar. Terpeleset sedikit saja bisa membuat sebuah karya menjadi berantakan dan ujung-ujungnya dihujat oleh para penggemar di seluruh dunia. Sejatinya, Dungeons & Dragons: Dark Alliance bukanlah karya yang buruk. Namun, ia memang berada dalam posisi yang serbatanggung.

Plot cerita yang dangkal, gameplay membosankan, grafis tanggung, dan audio yang juga tidak bagus-bagus amat membuat penulis agak sungkan untuk menilai game ini secara terbuka. Namun, jika harus jujur, skor yang bisa diberikan penulis untuk seri Dungeons & Dragons kali ini adalah 2,5/5. Jika penasaran dengan game ini, kamu bisa langsung membelinya di Steam.

Permainan D&D umumnya berlangsung dalam ruangan di mana para pemain duduk di sekeliling meja berisi peralatan permainan seperti buku peraturan, lembaran tokoh, dan dadu. Selain itu, tak jarang permainan juga menggunakan figur miniatur yang diletakkan di atas permukaan berpetak.

Pemain D&D menciptakan tokoh-tokoh yang bertualang dalam suatu lingkungan fantasi yang dibayangkan. Sang Dungeon Master (DM) bertugas sebagai “wasit” dan sang pencerita kisah serta menjaga suasana lingkungan petualangan tersebut. Dalam setiap sesi permainan, para pemain mendengarkan penjelasan dari sang DM mengenai suasana lingkungan di sekitar tokoh sang pemain serta keterangan tambahan dan pilihan yang bisa diambil, dan kemudian menerangkan langkah tanggapan mereka.