Berikut Game Subnautica yang Bisa Jadi koleksi Berharga

Berikut Game Subnautica yang Bisa Jadi koleksi Berharga

Berikut Game Subnautica yang Bisa Jadi koleksi Berharga – Subnautica adalah game petualangan bawah laut yang berlatar di planet samudra asing. Dunia besar dan terbuka yang penuh keajaiban dan bahaya menanti Anda. Anda telah mendarat darurat di dunia samudra asing, dan satu-satunya cara adalah turun. Lautan Subnautica berkisar dari terumbu karang dangkal yang bermandikan sinar matahari hingga parit laut dalam yang berbahaya, ladang lava, dan sungai bawah air bio-luminescent.

Kelola suplai oksigen Anda saat menjelajahi hutan rumput laut, dataran tinggi, terumbu karang, dan sistem gua yang berkelok-kelok. Airnya penuh dengan kehidupan: Beberapa di antaranya bermanfaat, sebagian besar berbahaya. Pada 2018 lalu, developer asal San Fransisco, Unknown Worlds Entertainment, telah sukses merilis sebuah game petualangan bawah laut berjudul Subnautica. Nah, tahun ini, tepatnya 14 Mei 2021, mereka kembali merilis kelanjutan dari game pertamanya dan diberi judul Subnautica: Below Zero.

Game ini bisa dimainkan secara multiplatform, mulai dari PC, PS4, PS5, Xbox One, Xbox Series X, macOS, hingga Nintendo Switch. Jika kita melihat kehebohan pada seri pertamanya, tak heran jika banyak gamer punya ekspektasi sangat tinggi terhadap judul kedua ini. Ya, pada 2018 lalu, Subnautica berhasil menjadi salah satu game terbaik dengan review yang selalu positif. Kondisi ini sebetulnya bisa menjadi bumerang bagi pengembang jika mereka terpeleset di seri keduanya. Namun, mereka bisa membuktikan bahwa Subnautica: Below Zero bisa tampil dengan sama bagusnya.

1. Menyelidiki misteri tentang saudara kita dengan cara yang indah
[REVIEW] Subnautica: Below Zero—Masih Memikat dengan Tampilan Indah

Plot atau latar belakang cerita dari Subnautica: Below Zero terjadi 2 tahun setelah peristiwa yang terjadi dalam game pertamanya, yakni Subnautica. Nah, di sini, kita akan memainkan karakter bernama Robin Ayou, ilmuwan yang menyelidiki kejadian misterius yang menimpa adiknya bernama Samantha. Well, plot cerita ini terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan dengan seri pertamanya.

Kamu akan kembali mengeksplorasi Planet 4546B yang didominasi dengan lautan. Selain menyelidiki kasus yang menimpa adiknya, Robin juga dituntut untuk menyelidiki sekaligus mengungkap rahasia besar di balik Alterra, sebuah basis riset atau penelitian yang selama ini juga aktif di planet asing. Karena kamu tidak bertualang di Bumi, alien dan makhluk-makhluk asing jelas bakal sering kamu jumpai di sini.

Salah satu poin positif yang bisa penulis rasakan adalah eksekusi dalam game ini terasa begitu indah meskipun terdapat sisi yang mengerikan. Kita akan melakukan penyelidikan, investigasi, dan segala hal berkaitan dengan plot cerita menggunakan cara yang betul-betul mengagumkan. Bisa dikatakan bahwa sangat jarang game modern yang mengaplikasikan cara indah ini karena akan dianggap sebagai sebuah perjudian besar.

Mungkin latar ceritanya memang terdengar simpel tak ubahnya game-game lain. Kendati demikian, penulis tetap merasakan bahwa Subnautica: Below Zero bisa memberikan nilai lebih dibanding karya sejenis. Tak salah jika ada begitu banyak gamer yang merasa terkesima dengan karya Unknown Worlds Entertainment ini. Dengan cara yang indah, sang developer seolah juga tahu bagaimana memanjakan gamer agar betah berlama-lama di depan layar.

2. Gameplay cenderung mirip dengan pendahulunya
[REVIEW] Subnautica: Below Zero—Masih Memikat dengan Tampilan Indah

Secara umum, penulis merasakan gameplay yang cukup identik dengan seri pertamanya. Namun, ada satu hal yang sangat berbeda dalam game ini. Yup, selain lautan, kamu juga bisa mengeksplorasi daratan. Berkaitan dengan judulnya yang memuat “Below Zero, kondisi mayoritas daratan di planet ini tentu juga dalam kondisi membeku. Hewan-hewan aneh di atasnya juga bisa kamu jumpai.

Penguin pengintai, serigala salju, dan hewan-hewan Antarktika bisa ditemui dalam game ini. Namun, jangan samakan mereka dengan organisme Bumi. Mereka sepenuhnya berbeda dan itu dibuat dengan kreativitas tinggi dari developer. Subnautica: Below Zero jelas menitikberatkan pada survival adventure. Kita akan dipaksa menjadi penyintas di tengah alam yang tak bersahabat.

Beberapa elemen, seperti mengumpulkan sumber daya, menggunakan alat, membangun pangkalan, dan berinteraksi dengan berbagai makhluk aneh, masih ada sebagai mekanisme utama yang wajib kita lakukan. Pergerakan siklus cuaca juga dirasa sangat dinamis karena terdapat siang dan malam. Oh, ya, gadget canggih, macam detektor mineral, helm, dan tank booster, masih disertakan dalam game ini.

Pengalaman memainkan karakter di dalam laut dan di daratan akan menimbulkan perspektif yang berbeda pula. Di daratan, kita harus mengantisipasi cuaca ekstrem, rasa lapar, haus, dan suhu yang tiba-tiba anjlok. Itu sebabnya, kita juga berbekal gadget pengukur suhu yang membuat penggunanya menjadi lebih waspada agar tidak terserang hipotermia.

3. Jangan tanyakan soal grafisnya
[REVIEW] Subnautica: Below Zero—Masih Memikat dengan Tampilan Indah

Untuk memainkan Subnautica: Below Zero dengan lancar, PC kita harus berspesifikasi RAM 16 GB, prosesor setara Intel Core i5, dan GPU setara Nvidia 1050 Ti. Sementara, ruang simpan yang dibutuhkan hanya sekitar 15 GB. Game ini membutuhkan perangkat hardware yang cukup tinggi karena memang tampilan visualnya yang sangat bagus. Lingkungan dalam laut dan daratan bisa digambarkan dengan sangat baik oleh developer.

Yang membuatnya tetap terasa indah untuk dimainkan adalah saturasi warnanya. Dengan grafis yang pekat akan warna, mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan alam di planet asing yang betul-betul aneh dan unik. Penulis menduga bahwa tampilan visual yang memesona makin meningkat. Itu karena kita akan difokuskan dalam bertualang.

Meskipun waktu bermain lebih pendek dibanding seri pertamanya, kamu masih akan merasakan sensasi yang memuaskan dalam memainkan petualangan Robin Ayou. Berkat grafisnya, menjelajahi tiap sudut Planet 4546B akan membuatmu ketagihan meskipun kamu tahu bahwa planet tersebut tidaklah bersahabat.

4. Audio tak kalah impresif
[REVIEW] Subnautica: Below Zero—Masih Memikat dengan Tampilan Indah

Kesan mendalam akan kamu dapatkan setelah memainkan game ini secara intens. Menjalankan misi-misi yang membutuhkan waktu selama 20 jam permainan justru akan membawamu pada cara pandang yang menakjubkan. Salah satu yang membuat game ini layak dikoleksi adalah kualitas audionya yang memanjakan telinga.

Audio yang ditampilkan pada saat kita menjelajahi dalamnya laut bisa dieksekusi dengan sangat baik oleh pengembang. Kadang, ada alunan musik yang kalem dan penuh misteri. Hal ini akan menambah pengalaman dan perasaan kita makin melekat dengan dalamnya lautan. Jika menggunakan headset, kamu akan merasakan seolah sedang menyelam di kedalaman laut yang penuh misteri.

Bagaimana dengan kualitas suara pada saat kita berada di darat? Bisa dikatakan sama baiknya. Tampilan badai salju yang apik akan diimbangi dengan kualitas audio yang bagus pula. Keadaan daratan yang berbahaya juga bisa diterjemahkan dengan suara-suara unik yang sangat kaya tapi gak terkesan lebai.

5. Kesimpulannya, Subnautica: Below Zero tetap tampil apik dan mewarisi genetik yang sama dengan pendahulunya
[REVIEW] Subnautica: Below Zero—Masih Memikat dengan Tampilan Indah

Subnautica: Below Zero tetap dinilai apik dan memesona, terutama dalam hal gameplay, grafis, dan audio. Ada sedikit kekurangan yang berkaitan dengan plot cerita yang terlalu sederhana. Untungnya, kesederhanaan itu tertutupi oleh megahnya tampilan di dunia Planet 4546B yang dibuat secara impresif.

Jika seri pertamanya yang berjudul Subnautica pernah begitu dipuja oleh kalangan gamer di dunia, seri keduanya ini pun patut mendapatkan perlakuan yang sama. Terlepas dari itu semua, penulis lebih menganggap bahwa game ini mirip dengan ekspansi karena jalan ceritanya terlalu simpel dan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 jam untuk menyelesaikannya.

Well, bagi penulis, skor 4,5/5 adalah kesimpulan akhir yang bisa diberikan pada Subnautica: Below Zero. Mekanisme permainan yang asyik, tampilan visual yang wah, dan kualitas audio yang impresif adalah sederet kelebihan dalam game ini. Akan tetapi, plot cerita yang terlalu sederhana barangkali bisa menjadi satu-satunya kelemahan di dalamnya.

Setelah pendaratan darurat di Life Pod Anda, jam terus berdetak untuk menemukan air, makanan, dan untuk mengembangkan peralatan yang perlu Anda jelajahi. Kumpulkan sumber daya dari laut di sekitar Anda. Kerajinan peralatan selam, lampu, modul habitat, dan kapal selam. Jelajahi lebih dalam dan lebih jauh untuk menemukan sumber daya yang lebih langka, memungkinkan Anda membuat item yang lebih canggih.

Alterra pergi dengan tergesa-gesa setelah insiden misterius. Stasiun penelitian terbengkalai memenuhi wilayah tersebut. Apa yang terjadi dengan para ilmuwan yang tinggal dan bekerja di sini? Log, item, dan bank data yang tersebar di antara puing-puing melukiskan gambaran baru dari insiden tersebut. Dengan sumber daya yang terbatas, Anda harus berimprovisasi untuk bertahan hidup sendiri.

Berenanglah di bawah bentangan Twisty Bridges yang bercahaya biru dan melengkung. Terpesona oleh kristal raksasa dari Crystal Caverns yang berkilauan. Naiki puncak yang tertutup salju dan jelajahi gua-gua es di Glacial Basin. Manuver antara Ventilasi Termal yang meletus untuk menemukan artefak alien kuno. Di Bawah Nol menghadirkan lingkungan yang sama sekali baru bagi Anda untuk bertahan hidup, belajar, dan menjelajah.