Berikut Ulasan Dari Game Final Fantasy VII The First Soldier

Berikut Ulasan Dari Game Final Fantasy VII The First Soldier

Berikut Ulasan Dari Game Final Fantasy VII The First Soldier – Final Fantasy VII adalah sebuah permainan peran konsol yang dirilis oleh Square Co., Ltd. (sekarang Square Enix) pada tahun 1997 dan disutradarai oleh Yoshinori Kitase. Ia adalah permainan pertama dalam seri Final Fantasy yang di produksi untuk konsol permainan Sony PlayStation.

Pada awal perilisannya, 17 November 2021, FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER masih belum dapat dimainkan dengan stabil. Bahkan, berulang kali, penulis mengunduh dan menginstal ulang game tersebut di smartphone Android karena tak kunjung dapat bergabung ke dalam server mereka.

Pagi ini, mobile game garapan Square Enix tersebut sudah dapat dimainkan meskipun belum terkoneksi secara sempurna. Beberapa alasan teknis menyebabkan developer harus selalu melakukan maintenance dan membuat banyak gamer cukup frustrasi akan hal ini.

1. Terjadi sebelum alur cerita CRISIS CORE
[REVIEW] FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER—Battle Royale yang Epik

Apa yang pertama kali kamu bayangkan tentang game FINAL FANTASY? Ya, pada umumnya, gamer akan beranggapan bahwa FINAL FANTASY  merupakan role-playing game atau RPG yang sangat kental dengan jalan cerita yang ruwet dan detail. Memang gak ada salahnya, sih, jika kamu memiliki ekspektasi demikian.

Namun, pada FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER mungkin justru akan mengaburkan sifat-sifat RPG yang selama ini lekat dalam serial mereka. Alih-alih berdiri di atas fondasi RPG yang murni, game ini justru menggabungkan dua elemen sekaligus, yakni RPG dan battle royale. Komposisi ini memang terkesan unik meskipun pada akhirnya ia tetap tampil dalam balutan khas FINAL FANTASY konvensional.

Di sini, kamu akan bergabung dengan sebuah elite tempur yang dinamakan SOLDIER. Dalam komunitas ini, kamu akan menjadi salah satu pasukan khusus dengan kemampuan dan kekuatan yang unik. Pada intinya, SOLDIER memang menjadi pusat dari semua plot atau premis yang akan dipaparkan oleh Square Enix. Sementara, latar belakang yang dihadirkan berada di waktu jauh sebelum CRISIS CORE.

Masih ingat, kan, cerita tentang CRISIS CORE FINAL FANTASY VII? Ya, seri ini merupakan prekuel dari FINAL FANTASY VII orisinal. Serial CRISIS CORE sendiri dianggap oleh banyak penggemar sebagai salah satu seri FINAL FANTASY VII yang paling dramatis dan kuat dengan pembawaan emosional—terutama saat momen haru kematian Zack Fair. Well, terlepas apakah Zack “dihidupkan” kembali atau tidak oleh developer, itu adalah soal lain lagi.

Yang jelas, dalam FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER, pasukan elite yang bernama SOLDIER baru saja dibentuk oleh Shinra. Hal ini jelas merepresentasikan premis utama yang berada jauh sebelum kejadian di seri-seri FINAL FANTASY VII lainnya. Sekuat apa narasi yang dibangun dalam game ini? Sebaiknya, kamu main dan terlibat sendiri secara intens dalam game karangan Tetsuya Nomura ini.

2. Terasa cukup berbeda dengan FINAL FANTASY lainnya
[REVIEW] FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER—Battle Royale yang Epik

Cukup susah payah juga penulis memainkan FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER. Pasalnya, saat menjajalnya, memang ada begitu banyak hambatan yang harus dihadapi perihal gameplay-nya, mulai dari tombol option yang tidak berfungsi, server tidak stabil, hingga pergerakan karakter yang “liar” dan sulit untuk dikontrol akibat bug dalam sistem.

Semoga saja kejadian ini segera diatasi oleh Square Enix mengingat sudah mulai banyak hujatan dan sumpah serapah yang dilontarkan oleh gamer mobile di platform Android. Sayangnya, hal ini juga yang membuat penilaian FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER menjadi jeblok hingga menyentuh bintang tiga. Padahal, secara keseluruhan, game ini mampu hadir secara epik dan tidak membosankan.

Pada dasarnya, game ini cukup berbeda dengan seri-seri FINAL FANTASY lainnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, serial ini menitikberatkan pada sistem battle royale yang dikombinasikan dengan RPG. Pada awalnya, kita akan melakukan kustomisasi karakter, mulai dari wajah, rambut, alis, mata, dan lain sebagainya. Lalu, tak lupa proses pelatihan SOLDIER juga akan kamu jalani sebelum betul-betul terjun ke pertempuran sesungguhnya.

Style dari masing-masing karakter juga cukup berbeda meskipun memiliki misi yang sama. Nah, dari masing-masing style yang ada, karakter akan mendapatkan tiga skill yang berbeda satu sama lain. Mode menembak juga cukup bervariasi. Pemain bisa memilih tiga cara, yakni Auto FireFloating Fire, dan Fixed Fire. Uniknya lagi, SOLDIER terkesan lebih sakti ketimbang karakter di game battle royale lainnya. Mereka tidak akan mati jika jatuh dari ketinggian berapa pun.

Sayangnya, akibat server yang belum stabil, proses loading dalam game ini terasa sangat lama dan menyiksa. Tak jarang penulis harus menghentikan game ini secara paksa karena eror di tengah jalan. Kabar baiknya, developer sepertinya cukup tanggap dan segera melakukan perbaikan di sana sini. Mungkin 1 atau 2 hari ke depan server sudah mulai stabil dan bisa menampung banyak pemain.

3. Grafis sudah sangat bagus di kelas mobile
[REVIEW] FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER—Battle Royale yang Epik

Untuk sekelas game mobile, tampilan pada FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER sudah penulis nilai cukup bagus. Terlepas dari bug dan beberapa glitch yang ada, visual karakter dan lingkungan di saat mode battle terlihat epik dan detail. Hebatnya, Square Enix tetap mempertahankan visual ala JRPG yang kental dengan gaya FINAL FANTASY konvensional.

RAM 4 GB, OS Android 7 ke atas, kapasitas ruang simpan sebesar 2 GB, dan chipset kelas menengah menjadi sederet syarat minimal untuk bisa menjalankan game ini dengan baik. Di atas kertas, game ini mungkin tidak akan seberat Genshin Impact atau Call of Duty: Mobile. Namun, seiring update dan perkembangan dari developer, mungkin ia akan meminta spesifikasi lebih tinggi untuk ke depannya.

Sepertinya, satu-satunya batu sandungan bagi penulis adalah mekanisme menembak yang dirasa tidak semulus dalam PUBG MOBILE. Ya, mau gak mau, penulis harus membandingkan FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER dengan game battle royale lainnya. Semoga saja ini hanyalah mekanisme eror yang bisa diperbaiki menjadi lebih baik.

4. Audio juga mampu tampil apik
[REVIEW] FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER—Battle Royale yang Epik

Game ini tidak terasa sepi, baik dari segi musikal maupun suara-suara teknis lainnya. Secara umum, kita sudah tahu bahwa Square Enix memang selalu jempolan dalam membuat audio berkualitas. Hampir semua serial FINAL FANTASY memiliki kualitas audio yang apik dan melegenda, begitu juga dengan FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER yang bisa terdengar pakem di telinga penulis.

Sayangnya, penulis tidak bisa menikmati audionya secara utuh dan lama. Lagi-lagi, di saat memainkannya, bug dan loading yang sangat lama sungguh menjadi hambatan bagi kita yang akan menikmati alur dari game ini. Oh, ya, pengisi suara dari masing-masing karakter juga sudah cukup baik. Ada banyak ragam dan warna dari suara percakapan yang dihasilkan dalam FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER.

5. Melengkapi serial FINAL FANTASY VII dengan caranya sendiri
[REVIEW] FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER—Battle Royale yang Epik

Terlepas dari hal teknis yang cukup mengganggu di awal perilisannya, FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER sebetulnya sudah mampu tampil apik dan punya cara uniknya sendiri. Yup, harus diakui bahwa ia mampu hadir sebagai pelengkap dan menjadi salah satu bagian dari semesta FINAL FANTASY VII yang secara mendasar sudah memiliki premis memikat.

Hubungannya dengan semesta FINAL FANTASY VII ditambah sistem gameplay seru yang mengasyikkan sudah bisa menjadikan game ini sebagai kandidat kuat untuk masuk ke dalam daftar permainan terbaik di 2021. Namun, sekali lagi, penilaian ini belum final 100 persen karena masih ada begitu banyak halangan teknis untuk mencapai puncaknya.

So, kita lihat saja nanti ke depannya. Apakah FINAL FANTASY VII THE FIRST SOLDIER tetap dianggap buruk akibat banyaknya keluhan terhadap server, atau ia justru bisa menjadi sebuah mahakarya epik dari Square Enix di kemudian hari? Yang jelas, untuk saat ini, penulis bisa memberikan skor 3,5/5 untuk game yang juga digarap oleh Ateam Entertainment ini.

Permainan ini bermula dari sebuah karakter protagonis, Cloud Strife, bergabung dengan organisasi anti-Shinra yakni AVALANCHE di mana organisasi ini sedang akan menyerang salah satu dari reaktor Mako yang mengelilingi kota Midgar. Reaktor Mako berhasil mereka hancurkan dan mereka segera kembali kemarkasnya di mana dalam perjalanan ini Cloud bertemu dengan Aeris Gainsborough, seorang wanita penjual bunga.

Saat AVALANCHE melakukan misi berikutnya, mereka terperangkap oleh Presiden Shinra di mana mako reaktor tersebut ternyata dijaga oleh sebuah robot. Walaupun mereka berhasil mengalahkan robot tersebut, Cloud yang belum sempat untuk keluar dari reaktor terlempar dari tingkat atas Midgar akibat ledakan reaktor, dari tingkat atas Midgar Cloud terlempar sampai kepada bagian slum di bawah dan jatuh disebuah gereja pada Sektor 5, dia terjatuh di atas bunga-bunga dan tidak terluka parah.

Digereja inilah Cloud mengenal Aeris. Aeris meminta Cloud bekerja sebagai penjaga dirinya di mana akhirnya Cloud setuju dan dalam seketika itu mereka berdua kedatangan tamu yakni, para Turk yang berasal dari Shinra di mana para Turk tersebut diperintahkan untuk menangkap Aeris.